Book Review- 3
BOOK REVIEW
Judul Buku : Di Bawah
Matahari Terminal
Pengarang : Jamaludin
Penerbit : PT Tiga
Serangkai
Cetakan : Tahun 1997
Isi Buku
Daftar Isi
1. 1. Pisang
goreng terakhir
2. 2. Hidup
sebatang kara
3. 3. Kenangan
yang berkelabat
4. 4. Seberkas
sinar terang
5. 5. Rumah
kecil di tepi sungai
6. 6. Harga
sebuah kedisiplinan
7. 7. Di
bawah matahari terminal
8. 8. Rahasia
dibalik lukisan potret
Kisah
ini berawal dari seorang anak kecil yang duduk di bangku sekolah dasar bernama
Sudin. Anak laki-laki berusia sepuluh tahun ini hidup dari keluarga yang sangat
sederhana dan hanya ditemani seorang ibunda tercinta, ibu Siah. Ibunya yang
sakit-sakitan membuat hati Sudin gelisah. Sepanjang pembelajaran di sekolah
pikirannya buyar entah kemana. Ia khawatir dengan keadaan ibunya yang di
tinggal sendirian di rumah. Bel istirahat berbunyi, sudin bergegas pulang ke
rumahnya. Di dapati ibunya yang tergeletak di dalam ranjang, dengan suaranya
yang lirih beliau berkata “Tumben jam segini kau sudah pulang nak ?”Sudin
menjawab dengan berbohong “guru-guru sedang rapat, bu”. Di samping ibunya sudah
tersedia setampah pisang goreng yang siap untuk di jual.
Sehari-hari
ibu Siah bekerja menjajakan dagangan pisang goreng keliling kampung. Karena
ibunya sakit, sudin dengan semangat membantu menjualkan dagangan ibunya. Sampai
mendekati waktu ashar, dagangan sudin telah laku habis. Perasaannya begitu
senang, ingin segera kembali menemui ibunya. Tanpa diduga beberapa tetangganya berkerumunan
di halaman rumahnya, dilihatnya sosok ibu tengah sedang dibacakan surat yasin.
Badannya tiba-tiba melemah, hatinya tidak kuasa membendung isak dan gemuruh
tangisannya. Ibunya telah tiada, menghadap Sang Maha Kuasa.
Sepeninggal
ibunya tercinta, sudin tinggal bersama tetangganya, pak Dullah dan istrinya.
Mereka sudah menganggap sudin seperti anaknya sendiri. Sudin pandai dalam
membawa diri walaupun keluarga pak Dullah berhati mulia tapi dia tidak mau
merepotkan beban keluarga pak dullah. Ia teringat satu-satunya peninggalan ibu
tercinta yaitu lukisan potret wajah ayahnya yang dilukis ayahnya sendiri.
Ayahnya adalah seorang seniman, banyak yang menentang pernikahan ayah dan
ibunya. Hanya karena ayahnya seorang seniman yang berbilang melarat dalam pandangan
kakek dan nenek sudin yang berniat ingin memisahkan ayah dan ibu sudin. Inilah
yang membuat hati sudin berkecamuk hebat, apakah ayahandanya masih hidup atau
sudah meninggal. Ia pun tak tau mengenai hal tersebut. Ia memutuskan untuk
berhenti sekolah dan membantu pekerjaan pak Dullah sebagai pekerja semir dan
sol sepatu. Pak Dullah dan istrinya berharap, sudin mau meneruskan sekolahnya
sampai tamat SD dan sampai jenajng SLTP. Walaupun hati kecil sudin berharap
dapat meneruskan sekolahnya namun ia tak mau menambah beban keluarga pak Dullah
jika ia bersekolah. Setiap berpapasan dengan teman sekolahnya ia menutupi rasa
mindernya. Kini ia harus memilih garis kehidupan dengan bekerja sebagai tukang
semir dan sol sepatu. Keluarga pak Dullah pun tidak bisa memaksakan kehendaknya
yang memilih untuk bekerja.
Kenangan
tentang mendiang nenek sudin menjadi bagian teka – teki misteri tersendiri,
bahwa kepergian ayahanda tercinta adalah
kesalahan dari kakek dan neneknya. Ayahnya yang bernama Syamsudin harus pergi
meninggalkan ibunda sudin dengan terpakasa. Kejadian di ketahui sudin mengenang
ketika itu sudin diajak pergi oleh ibunya untuk menemui neneknya di Banjarmasin
yang terkenal dengan seribu sungai dan design perahu klotok yang bayak
berlalu-lalang.
Secercah
harapan kini mulai bersinar terang. Saat sudin sedang menjalani profesinya
sebagai penjual Koran, dia bertemu dengan bu Arti gurunya di sekolah dasar.
Beliau mengatakan bahwa sesuai dengan keputusan kepala sekolah untuk meminta
sudin agar kembali lagi mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah. Esoknya
sudin diminta untuk berangkat ke sekolah dan menemui bapak kepala sekolah yang
bernama pak Rahmat. Keinginan sudin untuk bisa melanjutkan sekolah kini
tercapai, keluarga pak Dullah pun sangat senang sengan keputusan yang diambil
sudin. Alhamdulliah, dengan segala kesyukuran dan nikmat Alloh, pak Rahmat lah
yang bersedia menanggung semua beban biaya sekolah sudin. Pada saat itu sudin
diminta untuk mengahadap kepala sekolah, beliau menyerahkan dana bela sungkawa
atas sepeninggalan ibunya sebesar Rp 23.000,00. Dengan penuh haru, sudin
menutupi deru kebahagiaan yang ada di hatinya. Tak kalah mengaru biru ketika
pak Rahmat juga menawarkan pekerjaan memasarkan Koran-koran dari seorang agen
yang dermawan dan baik hati. Hati sudin semakin meluap begitu bahagia mendengar
kabar ini.
Perjalaanan
sudin menjadi penjual Koran mengantarkannya pada abang Leo sosok seniman muda
yang baik hati lelaki jangkung yang berambut gondrong. Abang Leo banyak
mengajarinya teknik melukis, tanpa di sadaripun sudin ternyata memiliki bakat
menjadi pelukis hebat. Tangannya yang lentur dan lihai mengusap kuas dengan
warna-warna dalam paletnya. Abang Leo melihat sisi kehidupan sudin yang hamper
mirip dengannya. Gambaran masalalunya tanpa orangtua, hanya hidup sebatang
kara. Namun bang leo adalah penyemangat baru bagi sudin.
Sudin
terpilih mewakili sekolahnya sebagai peserta lomba mata pelajaran IPA tingkat
provinsi, sebenarnya hatinya agak kecewa karena yang sangat ia idamkan untuk
bisa mewakili bidang lomba lukis di kosongkan alias ditiadakan oleh panitia.
Kekecewaannya ia luapkan pada bang leo. Suatu ketika hasil lukisannya di
sobek-sobek ayahnya gara-gara telat memberikan rokok, sampai-sampai bang leo
dilarang melukis lagi dan akhirnya ia pun kabur dari rumah. Bang leo berusaha
menegarkan hati sudin bahwa kegagalan bukan dari hasil pertarungan tapi karena
kehendak pihak luar. Jangan pernah sesali karena kita tidak pernah tau apa yang
akan terjadi selanjutnya. Seorang pelukis hebat dan ternama berawal dari jago
penglamun berat dan berkhayal tingkat kayangan. Dialah Leonardo da vinci, yang
telah banyak menghasilkan corat-coret hasil penerbangannya yang belum pernah
terbayangkan oleh para ilmuan dan akhirnya dijadikan dasar penciptaan struktur
pesawat terbang dikemudian hari. Jules Verme seorang pujangga perancis yang
hidup antar tahun 1828 sampai 1905, dari khayalannya dia pernah menulis kisah
berjudul perjalanan ke bulan. Dan hasil karyanya tersebut menjadi dasar ilmu
dan teknologi yang kemudian menjadi pola dalam merancang struktur pesawat ruang
angkasa.
Khayalan
adalah sepenggal dari kesaksian untuk merealisasikan hidup. Begitupun dengan
sudin yang memimpikan dirinya kelak menjadi sosok seniman hebat. Dalam
kesempatan emas ia mengikuti sebuah pameran atas peresmian sebuah gedung daerah.
Awalnya memang ia nampak minder dengan hasil karyanya yang tak senilai dengan
para seniman tingkat atas. Tiga buah figura hasil karyanya berhasil menjadi
pusat perhatian kolektor. Om Gusti berhasil menyabet satu lukisan milik sudin dengan
sketsa berjudul ibu merenda masa depan. Ia berkomentar dengan segala pujian, ia
lontarkan pujian tersebut atas karya
hebat sudin, seorang bocah cilik yang memiliki daya imajinasi luar dewasa. Yah
begitulah si sudin dengan candanya yang membuat suasana mencair, ketegangan
hati sudin mereda, ia menyerahkan lukisan itu senilai Rp 250.000,00 dalam
amplop yang ia terima setelah lukisan di pajang di galeri om Gusti. Selang
beberpa minggu, sudin masuk dalam berita Koran, dalam komentar bapak mendikbud
seorang seniman unggul harus ditempatkan pada tempat yang sesuai tuturnya.
Berita ini membawa namanya untuk mewakili perlombaan seni lukis tingkat
nasional. Ia bertandang ke Jakarta dengan di damping pak Brahim perwakilan dari
Kalimantan.
Cerita
fiktif yang berhasil diulas oleh salah seorang kontributor gobook mbak Iin Kurniati ini syarat akan
hikmah yang terkandung dalam setiap alur ceritanya. Barangkali genrasi 90-an
tidak begitu asing dengan cerita sejenis ini yang banyak digunakan sebagai
muatan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Pesan yang bisa kita tangkap adalah
‘life is must goes on’. Sudin, seorang bocah sekolah dasar tetap bisa
melanjutkan hidup meski hanya sebatang kara dan ia menyadari bahwa kehidupan
tidak hanya menyoal untuk berlaut-larut dalam kesedihan. Dengan tekad dan
semangatnya ia berhasil melanjutkan hidup dan menjadi sukses meskipun telah di
tinggal oleh kedua orangtuanya. Harapannya, kita yang masih di beri kesempatan
yang lebih lapang dari sudin, harus bisa berkarya lebih banyak dengan memaksimalkan
potensi kita, pantang menyerah dan terus berusaha. Go ! Fight ! Win !

Komentar
Posting Komentar