Book Review-1


BOOK REVIEW

Judul Buku      : Zero to Hero ; Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa
Penulis             : Solihin Abu Izzudin
Penerbit           : Pro-U Media
Cetakan           : Februari, 2016
Tebal               : 200 halaman
Pengantar
Sejarah mencatat, banyak orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan bukan buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja dan kesibukan mengurus duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Menyedikitkan tidur malam untuk bisa bangun malam. Sedikit canda untuk merasakan nikmatnya ibadah. Tak berlebihan dalam bergaul untuk merasakan lezatnya iman. Menahan dari maksiat supaya tubuhnya tetap sehat. Ada pepatah yang berbunyi kegagalan merupakan suatu kesuksesan yang tertunda. Memang benar adanya, bila orang berani gagal maka diapun akan berani untuk sukses. Biasanya kita tidak menyadari ketika kita mengusahakan sesuatu dan memutuskan untuk berhenti karena menganggap diri kita tidak mampu untuk meneruskannya, maka ketika itulah sesungguhnya kesuksesan itu ada selangkah lagi didepan kita.

Seperti Thomas Alfa Edison, saat ditanya bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal ? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia. General electric ini menjawab “Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal” Dan memang kesuksesan tergantung pada kekuatan untuk bertahan.

Kemampuan kita terbatas ? Itu bukan masalah ! Sebab bila di tengah keterbatasan itu kita mampu mendahsyatkan diri untuk meraih prestasi tinggi itulah kepahlawanan sejati. Inilah sebuah buku dengan judul  Zero to Hero yang mengajak pembacanya untuk berfikir, menguggah dan mengubah diri untuk melejitkan segala potensi yang dimilikinya sehingga menjadi pribadi yang dahsyat.

Sesungguhnya bila kita hitung-hitung waktu yang dimiliki orang yang berprestasi misalnya Thomas Alfa Edison adalah sama, 24 jam 1440 menit dan 86400 detik dalam satu hari, tujuh hari seminggu dan seterusnya. Kata Imam Al Ghazali, kalau orang umurnya rata=rata 60 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur maka dalam 60 tahun ia telah tidur selama 20 tahun. Luar biasa bukan ? banyak sekali waktu yang kita habiskan hanya untuk tidur. Bagaimana dengan kita ? Bila ditimbang apakah umur yang kita miliki seimbang dengan prestasi kita ? Mari kita renungkan secara pribadi.
Menjadi orang besar tidak harus keturunan darah biru ataupun berawal dari keturunan ningrat. Banyak orang biasa menjadi luar biasa justru karena berangkat betul-betul dari nol, from zero. Adapun bagi yang telah memiliki posisi, jabatan, kedudukan, gelar atau apapun atribut duniawi yang dimiliki mari kembali menzerokan diri untuk mampu melesatkan dan melejitkan jiwa menuju prestasi yang mulia ; taqwa dan derivasi kefadilahannya, hidup mulia dan berakhir bahagia. Happy ending full barokah, begitu penulis menyebutnya.

Episode luar biasa

Pada soft shut kali ini kita diajak membuka segala potensi melalui sebuah penghargaan mulia pada setiap karya dan kerja keras yang telah kita usahakan “jadilah dirimu sendiri maka akan kau raih manisnya kebahagiaan” sebuah ungkapan yang mungin sedikit menggambarkan episode ini.
Dalam momentum kali ini kita dapat menemukan sebuah kisah menarik bertajuk seorang anak lelaki yang memiliki tekat untuk maju dan berkembang menjadi pribadi yang luar biasa. Siapakah mereka ?

1.      Abu Bakar Al Misky, seorang pemuda dengan tekad yang kuat dan terus menjaga diri dalam sebuah nilai taqwa dan patuh pada setiap ketentuan yang pasti (syariat) pada pemaparanyya penulis berusaha menganalogikan bahwasannya ujian itu akan menentukan kenikmatan-kenikmatan pencapaiannya. Misalnya seorang dengan ketimpangan harta dikanan dan kirinya akan lebih pantas menyebutkan jangan tamak terhadap harta, kenapa lebih pantas ? kita tau karena disini ada sebuah kesempatan dan pilihan itu sangat terasa, apabila digunakan untuk mengambilnya, menyelewengkannya bahkan memanipulasinya atau sebaliknya, namun akan sangat berat sebelah apabila pertanyaan ini dikatakan oleh seseorang dengan keadaan kekurangan harta. Hal ini terjadi pada Abu Bakar Al Misky, paras wajahnya yang tampan membuat ujiannya terasa indah dan kadar taatnya lebih terasa merasuk dalam jiwa . Pesan yang tersirat yang ingin disampaikan penulis adalah agar kita tetap selalu berorientasi pada bagaimana kita mempersiapkan diri kita menanti dan mengahadapi sebuah ujian untuk mencapai pencapaian yang dinamis.

2.      Imam Syafei, melalui beliau penulis memberikan sebuah paparan inovasi dalam percepatan diri dari seorang guru dengan kajian hukum islam. Bahwa untuk mencapai kesuksesan yang bahagia kita sebagai insan manusia tidak cukup hanya dengan usha yang standar, melainkan perlunya usaha maksimal karena menurutnya gagal merencanakan gagal maksimal” jadi semua usaha seseorang tetap akan berbuah tapi buahnya berbeda-beda karena mencapai sukses maksimal full barokah adalah menggapai usaha maksimal berdestinasi full barokah.


Jadi percepat dirimu berarti :
1. Kiatkan dirimu memimpikan kesuksesan, karena kita tau otak kita adalah zona possible jadi semuanya akan menjadi mungkin dalam pemikiran kita.
2. Arahkan mata panahmu (target) semakin kau ingin mencapai pusat bidikan seharusnya engkau semakin berusaha maksimal
3, Fungsi management, karena penulis tau karakter masing-masing orang, jadi penulis mempercayakan management kepada diri sendiri/ karena engkau manajer dan motivator  bagi dirimu yang terbaik.
4 Percepatan, semua manusia terbatas oleh waktu sampai Alloh SWT berfirman dalam surat Al Ashr, dimana penyajian logisnya adalah bila setiap manusia memiliki 24 jam yang sama kenapa kualitasnya berbeda dengan para sahabat yang berkualitas super, ini bergantung pada dirimu engkau adalah koki yang paling tau tentang seberapa penting garam dan seberapa banyak garam yang kau butuhkan untuk membuat hidangan istimewa bagi dirimu sendiri
5. The right man in the right place, banyak orang gagal dalam bidang ini bukan berarti seseorang itu akan maksimal apabila ia diposisikan pada tempatnya. Bahayanya adalah setiap orang menuntut posisi sesuai dengan performance dan profesinya akhirnya ini menghambat kita menggunakan percepatan. Tentunys perceptatan diri tidak hanya ditentukan oleh tempat ruang dan waktu tetapi ada satu komponen yang sering kita lupakan yaitu sabar. Kenapa ? setiap orang yang melakukan percepatan akan banyak membutuhkan porsi ganda bahkan lebih dari itu. Logisnya anak baru lahir misalnya adakah bayi prematur yang langsung minum ASI eksklusif dari ibunya ? tentunya tidak ini analogi yang mudah maksudnya seseorang butuh porsi sabar yang lebih untuk percepatan karena akselerasi bukan anonim dari memaksakan.
6. Momentum, momentum = prestasi dengan landasan QS Al Ashr :1-3. Hidup adalah kumpulan waktu . Waktu adalah kumpulan momentum untuk berprestasi. Siapa yang tak mampu memanfaatkan waktu maka ia seperti mayat yang beku. Ujuhudu kadamihi, keberadaannya seperti tidak ada karena tak ada gunanya. Rasulullah SAW bersabda “perumpamaan orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingatNya seperti orang yang hidup dengan orang yang mati” (HR Bukhori dan Abu Musa Al Asy’ari)

Rasulullah SAW bersabda “Ada dua nikmat, di mana banyak orang yang tertipu dengan keduanya : nikmat sehat dan waktu luang”
Kunci dalam mencapai momentum diri
·         Memberdayakan waktu
·         Memberdayakan diri
·         Memberdayakan sarana
·         Memberdayakan momentum
·         Melahirkan ide segar
·         Kerja dengan benar untuk menghasilkan karya yang besar

Promissor hikmah

Seorang lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada penampilannya menghadang.
Umar bertanya, “Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik ?” Dengan terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk membunuh Muhammad!”
Mendengar ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di antara kalian yang sudah memberinya makan?”.
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata, “Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah. Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya, “Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan mengucapkannya!”
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul Alamin.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata, “Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad. Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”
Sahabat sekalian…
Apakah kita pengikut ajaran beliau? Tetapi sejauh mana kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama? kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan sebagai tanda kita pengikut beliau.
Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.Semoga Shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna.
Dalam penggalan kisah ini ustad sholihin menceritakan pada kita maknawiah hikmah dalam memberikan ketentuan jelas " mau sukses ngak ?" Ini berorentasi pada sebuah nilai kontekstual dan eksistensi. Di dalam buku ini banyak dicantumkan kisah para sahabat nabi yang bisa kita ambil hikmahnya, alasanya kalau ada orang baik kenapa kita tidak mau meniru.
Get some well
Salah seorang ulama salaf berkata “Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)” Igaatsatul lahfaan (1/37)
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata : “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan) yaitu kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti dan penyesalan yang tiada berakhir”
Hal ini dikarenakan orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terusberambisi mengejar yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadist yang shahih Rasulullah shallallah’ alaihi wa salam bersabda “Seandainya seorang manusia memiliki dua lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah harta yang ketiga” HSR al-Bukhori no 6072 dan Muslim no 116
“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati) namun malah fakir (miskinnya hati)”(Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272/ Darul ma’rifah)
Al Hasan mengatakan “Salah satu bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Alloh adalah anda telah lebih meyakini apa yang ada ditangan daripada apa yang ada di tanganNya”
Al Fudhal bin ‘Iyadh mengatakan “Akar zuhud adalah ridha terhadap yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla” (Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (960, 3045); Abu ‘Abdirrahman As Sulami dlam Thabaqatush Shufiyah (10))
Beliau juga mengatakan “ Qanaah (puas atas apa yang diberikan oleh Allah ta’ala merupakan sikap zuhud dan itulah kekayaan yang sesungguhnya”
Ibnu ‘Abbas mengatakan “Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya maka hendaklah dia lebih yakin terhadap apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada di tangannya”(Diriwayatkan Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha’i dalam Musnad Asy Syihab (357 & 368) dan hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas)
Ali r.a berkata “Barangsiapa yang zuhud terhadap dunia maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya”
Ibnu Mas’ud “Yakin itu adalah engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan sungguhAllah telah memuji mereka yang berjuang di jalanNya dan tidak takut akan celaan” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam hlm 644-646
Ada seorang tabi’in mulia Aun bin Abdullah berkata “Dulu, orang-orang baik satu sama lain menuliskan dan menasehkan tiga kalimat berikut :
1.      Siapa yang beramal untuk akhiratnya, Allah SWT akan mencukupi dunianya
2.      Siapa yang memperbaiki hubungan antar dirinya dengan Allah ta’ala , Allah akan memperbaiki hubungan dirinya dengan manusia yang lain
3.      Dan siapa yang memperbaiki keadaan hatinya,  Allah SWT memperbaiki keadaan lahirnya
Barangsiapa menjadikan akhirat sebagai aktivitas yang menyibukkannya dan selalu menjadi harapannya, maka tak akan pernah terlewatkan satu haripun melainkan ia mengingat kemana ia akan kembali. Ia tidak akan melihat urusan dunia kecuali pasti mengaitkannya dengan akhirat. Ia tidak berkumpul dengan keluarganya kecuali mengingatkanya akan berkumpulnya penduduk surge. Ia tidak mengenakan pakaian kecuali teringat akan pakaian sutra milik penghuni syurga. Ia tidak menyebrangi sebuah jembatan kecuali teringatkan akan titian shiroth diatas neraka jahanam. Ia tidak mendengar suara yang keras melainkan mengingatkannya akan tiupan sankakala. Ia tidak pernah berbicara tentang sesuatu pembicaraan, melainkan ada bagian yang terkaitkan dengan akhirat.
Ibnu Jauzi rahimahullah ketika beliau mengatakan “Dunia itu ibarat bayangan, jika anda berpaling dari bayangan, ia justru menguntit anda tetapi jika anda mencari-carinya, ia justru malas mendatangi anda”
Sahabat Utsman bin Affan r.a berkata “Harapan terhadap dunia adalah kegelapan dalam hati, sedang harapan terhadap akhirat adalah cahaya dalam hati”
Hatin Al Asham mengatakan : “Barangsiapa yang hatinya kosong dari mengingat empat masa yang mendebarkan, maka ia termasuk orang yang tertipu dan tidak akan selamat dari kebinasaan”
Pertama : saat mendebarkan ketika mitsaq (diambil perjanjian) tatkala dikatakan ‘Golongan ini berada di surge dan aku tidak peduli dan golongan yang ini berada di neraka dan aku tidak peduli sementara ia tidak mengetahui masuk golongan manakah dirinya ?”
Kedua : saat mendebarkan tatkala ia diciptakan dalam tiga kegelapan lalu malaikat menyerukan akan kesengsaraan atau kebahagiaan, sementara ia tidak mengerti apakah ia termasuk orang yang sengsara atau orang yang berbahagia ?
Ketiga : ketika ia diperlihatkan kepada amalannya sementara ia tidak tau apakah ia akan mendapat kabar gembira memperoleh ridho Allah atau kemurkaanNya ?
Keempat ; dari ketika manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam sementara ia tidak tau jalan mana yang hendak ia tempuh ?
Hasan al Basri berrkata “Tidaklah seseorang memperbanyak mengingat kematian melainkan akan terlihat dalam amalannya dari panjangnya angan seorang hamba itu pasti terlihat dari amalan dia”
Hasan al bashri dalam sebuah kisahnya disebutkan bahwa bila pernah melewati seseorang yang tertawa maka ia berkata kepadanya “Wahai anak saudaraku, apakah anda pernah melewati shiroth ?” tentu saja ia menjawab, “Belum” Hasan al Bashri pun berujar “lantas taukah anda, ke syurga ataukah ke neraka  anda kan pergi?” lelaki itu menjawab lagi “Tentu saja tidak “ Beliau berkata, “semoga Allah melimpahkan kesejahteraan pada anda, lalu mengapa anda sempat-sempatnya tertawa padahal urusan begitu mengerikan”
“Sikap sombong adalah memandang dirinya Nerada diatas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada diatas orang lain”(Bahjatun Nadzirin, 1/664 Syaikh Salim al Hilali, cet Daar Ibnu Jauzi)
Al Qodhi mengatakan “ Orang yang berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah muncul dari ahli ibadah. Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya” (Tuhfatul Ahwadzi, 7/376)
Sanad adalah bagian dari agama. Jika tidak ada sanad maka orang akan berkata semaunya. (Muqaddimah Shahih Muslim, 12/1)
Cukuplah kematian sebagai peringatan (berharga) (Al Fudahil bin Iyadh dalam Az Zuhd Al Baihaqi)
Kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberpa bab fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka. (Imam Abu Hanifah)
Akhir perkataan Ibrahim ketika dilemparkan dalam kobaran api adalah “hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai penolong dan sebaik-baik tempat bersandar) HR Bukhari
Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri (Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, 1/147)
Umar bin Abdul Aziz mengatakan “Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan (Al Amru bil Maruf, Ibnu Taimiyah, 15)
Ibnu Mas’ud berkata Rasa takut kepad Allah Ta’ala sudah cukup dikatakan sebagai ilmu. Anggapan bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan seseorang sudah cukup dikatakan sebagai kebodohan (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 34532)
Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi;ah menasehati Sufyan Ats Tsauri “Sesungguhnya engkau bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu juga akan pergi. Bahkan hamper-hampir sebagian harimu berlalu, namun engkau merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramalah” (Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah)
Hasan al Bashri pernah berkata “Wahai anak adamsesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari-hari, maka jika telah berlalu hari, maka seakan-akan sebagian dari dirimu telah pergi”
Ali bin Abi thalib r.a berkata “Dunia itu akan pergi menjauh sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan akhirat tersebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian menjadi anak-anak duni. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan (hisab) dan bukanlah hari beramal” (HR Bukhari secara mu’allaq tanpa sanad)
Kontributor ulasan buku “Zero to Hero” adalah Andi Prasetyo yang berasal dari Magelang, ia sedang meyelesaikan pendidikannya di jurusan Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta.
Kesimpulan dari ulasan tersebut mengandung pesan tersirat bahwa untuk melejitkan potensi kita maka kita perlu meng-nolkan diri (zero) sehingga mampu melangit (hero). Sesuatu yang nampak indah di awal maka tidak serta merta mencul begitu saja, membutuhkan fondasi ketekunan dan semangat pantang menyerah untuh mampu mengubah kegagalan sebagai langkah awal menuju keberhasilan selanjutnya. Selamat mencoba !
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Book Review- 5