Book Review-1
BOOK REVIEW
Judul Buku :
Zero to Hero ; Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa
Penulis :
Solihin Abu Izzudin
Penerbit :
Pro-U Media
Cetakan :
Februari, 2016
Tebal :
200 halaman
Pengantar
Sejarah
mencatat, banyak orang besar justru lahir di tengah himpitan kesulitan bukan
buaian kemanjaan. Mereka besar dengan mengurangi jam tidurnya, waktu bekerja
dan kesibukan mengurus duniawi untuk memenuhi kebutuhan ukhrawi. Menyedikitkan
tidur malam untuk bisa bangun malam. Sedikit canda untuk merasakan nikmatnya
ibadah. Tak berlebihan dalam bergaul untuk merasakan lezatnya iman. Menahan
dari maksiat supaya tubuhnya tetap sehat. Ada pepatah yang berbunyi kegagalan
merupakan suatu kesuksesan yang tertunda. Memang benar adanya, bila orang
berani gagal maka diapun akan berani untuk sukses. Biasanya kita tidak
menyadari ketika kita mengusahakan sesuatu dan memutuskan untuk berhenti karena
menganggap diri kita tidak mampu untuk meneruskannya, maka ketika itulah
sesungguhnya kesuksesan itu ada selangkah lagi didepan kita.
Seperti Thomas
Alfa Edison, saat ditanya bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal
? Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia. General electric ini menjawab “Saya tidak gagal, tetapi menemukan
9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses
karena telah kehabisan percobaan yang gagal” Dan memang kesuksesan tergantung
pada kekuatan untuk bertahan.
Kemampuan kita
terbatas ? Itu bukan masalah ! Sebab bila di tengah keterbatasan itu kita mampu
mendahsyatkan diri untuk meraih prestasi tinggi itulah kepahlawanan sejati.
Inilah sebuah buku dengan judul Zero to Hero yang mengajak pembacanya
untuk berfikir, menguggah dan mengubah diri untuk melejitkan segala potensi
yang dimilikinya sehingga menjadi pribadi yang dahsyat.
Sesungguhnya
bila kita hitung-hitung waktu yang dimiliki orang yang berprestasi misalnya
Thomas Alfa Edison adalah sama, 24 jam 1440 menit dan 86400 detik dalam satu
hari, tujuh hari seminggu dan seterusnya. Kata Imam Al Ghazali, kalau orang
umurnya rata=rata 60 tahun dan menjadikan 8 jam sehari untuk tidur maka dalam
60 tahun ia telah tidur selama 20 tahun. Luar biasa bukan ? banyak sekali waktu
yang kita habiskan hanya untuk tidur. Bagaimana dengan kita ? Bila ditimbang
apakah umur yang kita miliki seimbang dengan prestasi kita ? Mari kita
renungkan secara pribadi.
Menjadi orang
besar tidak harus keturunan darah biru ataupun berawal dari keturunan ningrat.
Banyak orang biasa menjadi luar biasa justru karena berangkat betul-betul dari
nol, from zero. Adapun bagi yang telah memiliki posisi, jabatan, kedudukan,
gelar atau apapun atribut duniawi yang dimiliki mari kembali menzerokan diri
untuk mampu melesatkan dan melejitkan jiwa menuju prestasi yang mulia ; taqwa
dan derivasi kefadilahannya, hidup mulia dan berakhir bahagia. Happy ending
full barokah, begitu penulis menyebutnya.
Episode luar
biasa
Pada soft shut
kali ini kita diajak membuka segala potensi melalui sebuah penghargaan mulia
pada setiap karya dan kerja keras yang telah kita usahakan “jadilah dirimu
sendiri maka akan kau raih manisnya kebahagiaan” sebuah ungkapan yang mungin
sedikit menggambarkan episode ini.
Dalam momentum kali ini kita
dapat menemukan sebuah kisah menarik bertajuk seorang anak lelaki yang memiliki
tekat untuk maju dan berkembang menjadi pribadi yang luar biasa. Siapakah
mereka ?
1.
Abu Bakar Al Misky,
seorang pemuda dengan tekad yang kuat dan terus menjaga diri dalam sebuah nilai
taqwa dan patuh pada setiap ketentuan yang pasti (syariat) pada pemaparanyya
penulis berusaha menganalogikan bahwasannya ujian itu akan menentukan
kenikmatan-kenikmatan pencapaiannya. Misalnya seorang dengan ketimpangan harta
dikanan dan kirinya akan lebih pantas menyebutkan jangan tamak terhadap harta,
kenapa lebih pantas ? kita tau karena disini ada sebuah kesempatan dan pilihan
itu sangat terasa, apabila digunakan untuk mengambilnya, menyelewengkannya
bahkan memanipulasinya atau sebaliknya, namun akan sangat berat sebelah apabila
pertanyaan ini dikatakan oleh seseorang dengan keadaan kekurangan harta. Hal
ini terjadi pada Abu Bakar Al Misky, paras wajahnya yang tampan membuat
ujiannya terasa indah dan kadar taatnya lebih terasa merasuk dalam jiwa . Pesan
yang tersirat yang ingin disampaikan penulis adalah agar kita tetap selalu
berorientasi pada bagaimana kita mempersiapkan diri kita menanti dan
mengahadapi sebuah ujian untuk mencapai pencapaian yang dinamis.
2.
Imam Syafei, melalui
beliau penulis memberikan sebuah paparan inovasi dalam percepatan diri dari
seorang guru dengan kajian hukum islam. Bahwa untuk mencapai kesuksesan yang
bahagia kita sebagai insan manusia tidak cukup hanya dengan usha yang standar,
melainkan perlunya usaha maksimal karena menurutnya gagal merencanakan gagal
maksimal” jadi semua usaha seseorang tetap akan berbuah tapi buahnya
berbeda-beda karena mencapai sukses maksimal full barokah adalah menggapai
usaha maksimal berdestinasi full barokah.
Jadi percepat dirimu berarti :
1. Kiatkan dirimu memimpikan kesuksesan, karena kita tau
otak kita adalah zona possible jadi
semuanya akan menjadi mungkin dalam pemikiran kita.
2. Arahkan mata panahmu (target) semakin kau ingin
mencapai pusat bidikan seharusnya engkau semakin berusaha maksimal
3, Fungsi management, karena penulis tau karakter
masing-masing orang, jadi penulis mempercayakan management kepada diri sendiri/
karena engkau manajer dan motivator bagi
dirimu yang terbaik.
4 Percepatan, semua manusia terbatas oleh waktu sampai
Alloh SWT berfirman dalam surat Al Ashr, dimana penyajian logisnya adalah bila
setiap manusia memiliki 24 jam yang sama kenapa kualitasnya berbeda dengan para
sahabat yang berkualitas super, ini bergantung pada dirimu engkau adalah koki
yang paling tau tentang seberapa penting garam dan seberapa banyak garam yang
kau butuhkan untuk membuat hidangan istimewa bagi dirimu sendiri
5. The right man in the right place, banyak orang gagal
dalam bidang ini bukan berarti seseorang itu akan maksimal apabila ia
diposisikan pada tempatnya. Bahayanya adalah setiap orang menuntut posisi
sesuai dengan performance dan profesinya akhirnya ini menghambat kita
menggunakan percepatan. Tentunys perceptatan diri tidak hanya ditentukan oleh
tempat ruang dan waktu tetapi ada satu komponen yang sering kita lupakan yaitu
sabar. Kenapa ? setiap orang yang melakukan percepatan akan banyak membutuhkan
porsi ganda bahkan lebih dari itu. Logisnya anak baru lahir misalnya adakah
bayi prematur yang langsung minum ASI eksklusif dari ibunya ? tentunya tidak
ini analogi yang mudah maksudnya seseorang butuh porsi sabar yang lebih untuk
percepatan karena akselerasi bukan anonim dari memaksakan.
6. Momentum, momentum = prestasi dengan landasan QS Al
Ashr :1-3. Hidup adalah kumpulan waktu . Waktu adalah kumpulan momentum untuk
berprestasi. Siapa yang tak mampu memanfaatkan waktu maka ia seperti mayat yang
beku. Ujuhudu kadamihi, keberadaannya
seperti tidak ada karena tak ada gunanya. Rasulullah SAW bersabda “perumpamaan
orang yang mengingat Allah dengan orang yang tidak mengingatNya seperti orang
yang hidup dengan orang yang mati” (HR Bukhori dan Abu Musa Al Asy’ari)
Rasulullah SAW bersabda “Ada dua nikmat, di mana banyak
orang yang tertipu dengan keduanya : nikmat sehat dan waktu luang”
Kunci dalam mencapai momentum diri
·
Memberdayakan waktu
·
Memberdayakan diri
·
Memberdayakan sarana
·
Memberdayakan
momentum
·
Melahirkan ide segar
·
Kerja dengan benar
untuk menghasilkan karya yang besar
Promissor hikmah
Seorang lelaki
Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan
tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah
matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci
tempat Rasulullah tinggal itu. Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis
Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya. Tatkala
Tsumamah datang, Umar bin Khattab ra. yang melihat gelagat buruk pada
penampilannya menghadang.
Umar bertanya,
“Apa tujuan kedatanganmu ke Madinah? Bukankah engkau seorang musyrik ?” Dengan
terang-terangan Tsumamah menjawab, “Aku datang ke negeri ini hanya untuk
membunuh Muhammad!”
Mendengar
ucapannya, dengan sigap Umar langsung memberangusnya. Tsumamah tak sanggup
melawan Umar yang perkasa, ia tak mampu mengadakan perlawanan. Umar berhasil
merampas senjatanya dan mengikat tangannya kemudian dibawa ke masjid. Setelah
mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid Umar segera melaporkan kejadian
ini pada Rasulullah.
Rasulullah segera keluar menemui orang yang bermaksud
membunuhnya itu. Setibanya di tempat pengikatannya, beliau mengamati wajah
Tsumamah baik-baik, kemudian berkata pada para sahabatnya, “Apakah ada di
antara kalian yang sudah memberinya makan?”.
Para shahabat Rasul yang ada disitu tentu saja kaget
dengan pertanyaan Nabi. Umar yang sejak tadi menunggu perintah Rasulullah untuk
membunuh orang ini seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari
Rasulullah. Maka Umar memberanikan diri bertanya, “Makanan apa yang anda maksud
wahai Rasulullah? Orang ini datang ke sini ingin membunuh bukan ingin masuk
Islam!” Namun Rasulullah tidak menghiraukan sanggahan Umar. Beliau berkata,
“Tolong ambilkan segelas susu dari rumahku, dan buka tali pengikat orang itu”.
Walaupun merasa heran, Umar mematuhi perintah Rasulullah.
Setelah memberi minum Tsumamah, Rasulullah dengan sopan berkata kepadanya,
“Ucapkanlah Laa ilaha illa-Llah (Tiada ilah selain Allah).” Si musyrik itu
menjawab dengan ketus, “Aku tidak akan mengucapkannya!”. Rasulullah membujuk
lagi, “Katakanlah, Aku bersaksi tiada ilah selain Allah dan Muhammad itu Rasul
Allah.” Namun Tsumamah tetap berkata dengan nada keras, “Aku tidak akan
mengucapkannya!”
Para sahabat Rasul yang turut menyaksikan tentu saja
menjadi geram terhadap orang yang tak tahu untung itu. Tetapi Rasulullah malah membebaskan
dan menyuruhnya pergi. Tsumamah yang musyrik itu bangkit seolah-olah hendak
pulang ke negerinya. Tetapi belum berapa jauh dari masjid, dia kembali kepada
Rasulullah dengan wajah ramah berseri. Ia berkata, “Ya Rasulullah, aku bersaksi
tiada ilah selain Allah dan Muahammad Rasul Allah.”
Rasulullah tersenyum dan bertanya, “Mengapa engkau tidak
mengucapkannya ketika aku memerintahkan kepadamu?” Tsumamah menjawab, “Aku
tidak mengucapkannya ketika masih belum kau bebaskan karena khawatir ada yang
menganggap aku masuk Islam karena takut kepadamu. Namun setelah engkau
bebaskan, aku masuk Islam semata-mata karena mengharap keredhaan Allah Robbul
Alamin.”
Pada suatu kesempatan, Tsumamah bin Itsal berkata,
“Ketika aku memasuki kota Madinah, tiada yang lebih kubenci dari Muhammad.
Tetapi setelah aku meninggalkan kota itu, tiada seorang pun di muka bumi yang
lebih kucintai selain Muhammad Rasulullah.”
Sahabat sekalian…
Apakah kita pengikut ajaran beliau? Tetapi sejauh mana
kita bisa memaafkan kesalahan orang? Seberapa besar kita mencintai sesama?
kalau tidak, kita perlu menanyakan kembali ikrar kita yang pernah kita ucapkan
sebagai tanda kita pengikut beliau.
Sungguh, beliau adalah contoh yang sempurna sebagai
seorang manusia biasa. beliau adalah Nabi terbesar, beliau juga adalah Suami
yang sempurna, Bapak yang sempurna, pimpinan yang sempurna, teman dan sahabat
yang sempurna, tetangga yang sempurna. maka tidak salah kalau Allah mengatakan
bahwa Beliau adalah teladan yang sempurna.Semoga Shalawat dan salam senantiasa
dilimpahkan kepada beliau, junjungan dan teladan kita yang oleh Allah telah
diciptakan sebagai contoh manusia yang sempurna.
Dalam penggalan kisah ini ustad sholihin menceritakan
pada kita maknawiah hikmah dalam memberikan ketentuan jelas " mau sukses
ngak ?" Ini berorentasi pada sebuah nilai kontekstual dan eksistensi. Di
dalam buku ini banyak dicantumkan kisah para sahabat nabi yang bisa kita ambil
hikmahnya, alasanya kalau ada orang baik kenapa kita tidak mau meniru.
Get some well
Salah seorang ulama salaf berkata
“Barangsiapa yang mencintai dunia (secara berlebihan) maka hendaknya dia
mempersiapkan dirinya untuk menanggung berbagai macam musibah (penderitaan)”
Igaatsatul lahfaan (1/37)
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
berkata : “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari
tiga (macam penderitaan) yaitu kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya,
kepayahan yang tiada henti dan penyesalan yang tiada berakhir”
Hal ini dikarenakan orang yang
mencintai dunia (secara berlebihan) jika telah mendapatkan sebagian dari (harta
benda) duniawi maka nafsunya (tidak pernah puas dan) terusberambisi mengejar
yang lebih daripada itu, sebagaimana dalam hadist yang shahih Rasulullah
shallallah’ alaihi wa salam bersabda “Seandainya seorang manusia memiliki dua
lembah (yang berisi) harta (emas) maka dia pasti (berambisi) mencari lembah
harta yang ketiga” HSR al-Bukhori no 6072 dan Muslim no 116
“Kaya hati adalah merasa cukup
pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari maka
itu berarti bukanlah ghina (kaya hati) namun malah fakir (miskinnya
hati)”(Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, 11/272/ Darul ma’rifah)
Al Hasan mengatakan “Salah satu
bentuk lemahnya keyakinanmu terhadap Alloh adalah anda telah lebih meyakini apa
yang ada ditangan daripada apa yang ada di tanganNya”
Al Fudhal bin ‘Iyadh mengatakan
“Akar zuhud adalah ridha terhadap yang ditetapkan Allah ‘azza wa jalla” (Diriwayatkan
Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (960, 3045); Abu ‘Abdirrahman As Sulami dlam
Thabaqatush Shufiyah (10))
Beliau juga mengatakan “ Qanaah
(puas atas apa yang diberikan oleh Allah ta’ala merupakan sikap zuhud dan
itulah kekayaan yang sesungguhnya”
Ibnu ‘Abbas mengatakan
“Barangsiapa yang suka menjadi orang terkaya maka hendaklah dia lebih yakin terhadap
apa yang ada ditangan Allah daripada apa yang ada di tangannya”(Diriwayatkan
Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 3/218-219; Al Qadha’i dalam Musnad Asy Syihab (357
& 368) dan hadits ‘Abdullah bin ‘Abbas)
Ali r.a berkata “Barangsiapa yang
zuhud terhadap dunia maka berbagai musibah akan terasa ringan olehnya”
Ibnu Mas’ud “Yakin itu adalah
engkau tidak mencari ridha manusia dengan cara menimbulkan kemurkaan Allah. Dan
sungguhAllah telah memuji mereka yang berjuang di jalanNya dan tidak takut akan
celaan” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam hlm 644-646
Ada seorang tabi’in mulia Aun bin
Abdullah berkata “Dulu, orang-orang baik satu sama lain menuliskan dan
menasehkan tiga kalimat berikut :
1.
Siapa yang beramal
untuk akhiratnya, Allah SWT akan mencukupi dunianya
2.
Siapa yang memperbaiki
hubungan antar dirinya dengan Allah ta’ala , Allah akan memperbaiki hubungan
dirinya dengan manusia yang lain
3.
Dan siapa yang
memperbaiki keadaan hatinya, Allah SWT
memperbaiki keadaan lahirnya
Barangsiapa menjadikan akhirat
sebagai aktivitas yang menyibukkannya dan selalu menjadi harapannya, maka tak
akan pernah terlewatkan satu haripun melainkan ia mengingat kemana ia akan
kembali. Ia tidak akan melihat urusan dunia kecuali pasti mengaitkannya dengan
akhirat. Ia tidak berkumpul dengan keluarganya kecuali mengingatkanya akan
berkumpulnya penduduk surge. Ia tidak mengenakan pakaian kecuali teringat akan
pakaian sutra milik penghuni syurga. Ia tidak menyebrangi sebuah jembatan
kecuali teringatkan akan titian shiroth diatas neraka jahanam. Ia tidak
mendengar suara yang keras melainkan mengingatkannya akan tiupan sankakala. Ia
tidak pernah berbicara tentang sesuatu pembicaraan, melainkan ada bagian yang
terkaitkan dengan akhirat.
Ibnu Jauzi rahimahullah ketika
beliau mengatakan “Dunia itu ibarat bayangan, jika anda berpaling dari
bayangan, ia justru menguntit anda tetapi jika anda mencari-carinya, ia justru
malas mendatangi anda”
Sahabat Utsman bin Affan r.a
berkata “Harapan terhadap dunia adalah kegelapan dalam hati, sedang harapan
terhadap akhirat adalah cahaya dalam hati”
Hatin Al Asham mengatakan :
“Barangsiapa yang hatinya kosong dari mengingat empat masa yang mendebarkan,
maka ia termasuk orang yang tertipu dan tidak akan selamat dari kebinasaan”
Pertama : saat mendebarkan ketika mitsaq (diambil
perjanjian) tatkala dikatakan ‘Golongan ini berada di surge dan aku tidak
peduli dan golongan yang ini berada di neraka dan aku tidak peduli sementara ia
tidak mengetahui masuk golongan manakah dirinya ?”
Kedua : saat mendebarkan tatkala ia diciptakan dalam tiga
kegelapan lalu malaikat menyerukan akan kesengsaraan atau kebahagiaan,
sementara ia tidak mengerti apakah ia termasuk orang yang sengsara atau orang
yang berbahagia ?
Ketiga : ketika ia diperlihatkan kepada amalannya
sementara ia tidak tau apakah ia akan mendapat kabar gembira memperoleh ridho
Allah atau kemurkaanNya ?
Keempat ; dari ketika manusia keluar dari kuburnya dalam
keadaan bermacam-macam sementara ia tidak tau jalan mana yang hendak ia tempuh
?
Hasan al Basri berrkata “Tidaklah
seseorang memperbanyak mengingat kematian melainkan akan terlihat dalam
amalannya dari panjangnya angan seorang hamba itu pasti terlihat dari amalan
dia”
Hasan al bashri dalam sebuah
kisahnya disebutkan bahwa bila pernah melewati seseorang yang tertawa maka ia
berkata kepadanya “Wahai anak saudaraku, apakah anda pernah melewati shiroth ?”
tentu saja ia menjawab, “Belum” Hasan al Bashri pun berujar “lantas taukah
anda, ke syurga ataukah ke neraka anda
kan pergi?” lelaki itu menjawab lagi “Tentu saja tidak “ Beliau berkata,
“semoga Allah melimpahkan kesejahteraan pada anda, lalu mengapa anda
sempat-sempatnya tertawa padahal urusan begitu mengerikan”
“Sikap sombong adalah memandang
dirinya Nerada diatas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang
sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada diatas orang
lain”(Bahjatun Nadzirin, 1/664 Syaikh Salim al Hilali, cet Daar Ibnu Jauzi)
Al Qodhi mengatakan “ Orang yang
berilmu dimisalkan dengan bulan dan ahli ibadah dimisalkan dengan bintang
karena kesempurnaan ibadah dan cahayanya tidaklah muncul dari ahli ibadah.
Sedangkan cahaya orang yang berilmu berpengaruh pada yang lainnya” (Tuhfatul
Ahwadzi, 7/376)
Sanad adalah bagian dari agama.
Jika tidak ada sanad maka orang akan berkata semaunya. (Muqaddimah Shahih
Muslim, 12/1)
Cukuplah kematian sebagai
peringatan (berharga) (Al Fudahil bin Iyadh dalam Az Zuhd Al Baihaqi)
Kisah-kisah para ulama dan duduk
bersama mereka lebih aku sukai daripada menguasai beberpa bab fiqih. Karena
dalam kisah mereka diajarkan berbagai adab dan akhlaq luhur mereka. (Imam Abu
Hanifah)
Akhir perkataan Ibrahim ketika
dilemparkan dalam kobaran api adalah “hasbiyallahu wa ni’mal wakil” (Cukuplah
Allah sebagai penolong dan sebaik-baik tempat bersandar) HR Bukhari
Tidak ada suatu perkara yang
lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri
sendiri (Ibnul Qayyim, Al-Fawa’id, 1/147)
Umar bin Abdul Aziz mengatakan
“Barangsiapa beribadah pada Allah tanpa ilmu maka kerusakan yang ditimbulkan
lebih besar daripada perbaikan yang dilakukan (Al Amru bil Maruf, Ibnu
Taimiyah, 15)
Ibnu Mas’ud berkata Rasa takut
kepad Allah Ta’ala sudah cukup dikatakan sebagai ilmu. Anggapan bahwa Allah
tidak mengetahui perbuatan seseorang sudah cukup dikatakan sebagai kebodohan
(Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no 34532)
Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa
dia mendengar Robi;ah menasehati Sufyan Ats Tsauri “Sesungguhnya engkau
bagaikan hari yang dapat dihitung. Jika satu hari berlalu, maka sebagian darimu
juga akan pergi. Bahkan hamper-hampir sebagian harimu berlalu, namun engkau
merasa seluruh yang ada padamu ikut pergi. Oleh karena itu, beramalah”
(Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah)
Hasan al Bashri pernah berkata
“Wahai anak adamsesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari-hari, maka jika
telah berlalu hari, maka seakan-akan sebagian dari dirimu telah pergi”
Ali bin Abi thalib r.a berkata
“Dunia itu akan pergi menjauh sedangkan akhirat akan mendekat. Dunia dan
akhirat tersebut memiliki anak. Jadilah anak-anak akhirat dan janganlah kalian
menjadi anak-anak duni. Hari ini (di dunia) adalah hari beramal dan bukanlah
hari perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan
(hisab) dan bukanlah hari beramal” (HR Bukhari secara mu’allaq tanpa sanad)
Kontributor ulasan buku “Zero to Hero” adalah Andi Prasetyo yang berasal dari Magelang, ia
sedang meyelesaikan pendidikannya di jurusan Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Surya Global Yogyakarta.
Kesimpulan dari ulasan tersebut mengandung pesan tersirat
bahwa untuk melejitkan potensi kita maka kita perlu meng-nolkan diri (zero)
sehingga mampu melangit (hero). Sesuatu yang nampak indah di awal maka tidak
serta merta mencul begitu saja, membutuhkan fondasi ketekunan dan semangat
pantang menyerah untuh mampu mengubah kegagalan sebagai langkah awal menuju
keberhasilan selanjutnya. Selamat mencoba !

Komentar
Posting Komentar