Identitas Buku
Judul : Sastra yang Melintasi Batas dan Identitas
(Sekumpulan Esai Sastra)
Pengarang : Yusri Fajar
Cetakan : April 2017
Penerbit : Basabasi
Tebal : 240 hlm
Daftar isi
·
Narasi Eksil dan Diaspora Indonesia di
Eropa dalam Kumcer Lelaki Pencari Langit oleh Soeprijadi Tomodiharjo
·
Tradisi dan Sejarah Negeri Ginseng dalam
“Meditasi Kimchi” oleh Tengsoe Tjahjono
·
Negosiasi Identitas Pribumi dan Belanda
dalam Sastra Poskolonial Indonesia Kontemporer
·
Kuasa Orientalis Belanda atas
Naskah-Naskah Kuno Indonesia dalam Cerpen “Di jantung Batavia” oleh Indah
Darmastuti
·
Sastra(wan) dan Representasi Masyarakat Multikultural
·
Generasi Pesisir dalam Kumcer Mahwi Air
Tawar “Karapan Laut”
·
Pengarang dan Bayang-Bayang Kenangan
dalam Kumcer “Reruntuhan Musim Dingin” Karya Sungging Raga dan “Tuhan tidak
Makan Ikan” Karya Gunawan Tri Atmojo
·
Sastra dan Kuliner
·
Konstruksi Identitas Penyair dan Puisi
·
Estetisme, Repetisi dan Dongeng Binatang
·
Kota, Identitas dan Cinta dalam Antologi
Puisi “Sulfatara”
·
Perlawanan terhadap Penjajahan dalam
Puisi-Puisi Indonesia dan Korea
·
Nilai Kearifan Lingkungan dan
Eksploitasi Alam dalam Puisi-Puisi Kontemporer Indonesia
Narasi Eksil dan
Diaspora Indonesia di Eropa dalam
Kumcer Lelaki
Pencari Langit oleh Soeprijadi
Tomodiharjo
Karya
sastra yang bercerita tentang orang-orang yang meninggalkan negaranya dan
memilih tak kembali menyuguhkan alasan mengapa mereka menetap di luar negeri.
Tetapi meskipun begitu identitas mereka yang berakar dari Indonesia sebagian
masih melekat. Menyandang identitas sebagai eksil tidak hanya mengandung
konsekuensi berada dalam ruang geografis yang jauh dari tanah kelahiran namun
juga berjarak secara kultural dengan berbagai praktik budaya di tanah
kelahiran. Hong Zen dalam bukunya Semiotika
of Excile in Literature memberikan contoh penulis-penulis Jerman yang
menjadi eksil di Amerika atau Inggris setelah Perang Dunia ii, penulis-penulis
Amerika yang tinggal di Paris setelah Perang Dunia I, Perempuan-perempuan
Polandia di Unisoviet dan penulis-penulis Spanyol di Meksiko. Tentu serupa
dengan penulis Indonesia, secara psikologi dan kultural memiliki rasa
keterasingan dan kehilangan. Pengalaman mereka melintasi bangsa dan negara lain
tentu akan merekonstruksi inspirasi dan artikulasi dalam karya mereka.
Soeprijadi
Tomodiharjo, merupakan sastrawan kelahiran Kediri yang menetap di Koln Jerman
memiliki pengalaman berada di antara baying-bayang dua bangsa. Melalui 13
cerpen dalam buku Lelaki Pencari Langit, soeprijadi menuturkan kehidupan eksil
dan diaspora Indonesia dengan menggambarkan tokoh-tokoh yang sedang mengingat
serpihan memori pedih, pahit, heroiK, penuh makna dan romantic. Cerita-cerita
tersebut mengartikulasikan suara-suara para eksil, dinamika dan perjuangan
kehidupan di luar negeri. Lebih jauh, cerita tersebut mengkonstruksi relasi
tanah kelahiran dan negeri tempat para eksil Indonesia tinggal. Fragmentasi
memori dan dilema kehidupan sebagai pendatang di negeri orang juga dialami
pengarang-pengarang yang meninggalkan negara mereka. Misalnya Salman Rushdie,
sastrawan asal India yang menetap di barat. Dalam esainya Imaginary Homeland menggambarkan posisi dilematis sebagai seorang
yang memiliki akar identitas Asian namun menetap di Barat. “Mungkin saja pengarang-pengarang
yang memiliki posisi sama sepertiku, para eksil, pendatang atau ekspatriat
dihantui rasa kehilangan, usaha untuk meraih kembali dan melihat ke belakang”
(1992:10). Kehilangan bermakna sebagai sesuatu dimana seorang eksil bisa jadi
tak punya kesempatan lagi untuk kembali kewarganegaraan di negara asal atau
kehilangan atas berbagai kesempatan mengenang kenangan dengan cara mengunjungi
kampung halamannya serta mengamalkan budaya negeri asalnya secara total.
Posisi
Soeprijadi yang menetap di Eropa juga membuatnya tak mudah mengingat kehidupannya
di Indonesia. Dengan menarasikan kenangan, Soeprijadi berusaha mengklaim
identitas Indonesia meski dia harus menegosiasi identitas tersebut. Dalam
karyanya seolah Soeprijadi menegaskan sekaligus mengidentifikasi dirinya
sebagai bagian yang masih tak bisa terpisah dari tanah kelahirannya. Ia
mengimajinasikan dan merekonstruksi memorinya atas Indonesia dalam fikiran dan
cerita yang ia tuturkan. Kehidupan eksil dan ambiguitas identitas mendua para
diaspora diceritakan untuk menegaskan bahwa meskipun para eksil tinggal di
Eropa namun narasi dan kenangan tentang Indonesia takkan pernah lekang dalam
pikiran dan batin. Diri boleh teraleniasi di luar negeri namun hati tetap
merindukan ibu pertiwi. Eksil berada dalam negosiasi dan konstruksi identitas
yang dipengaruhi oleh latarbelakang di masa lalu dan eksistensinya dimasa kini
dinegeri asing. Pantang bagi eksil untuk melupakan negeri sendiri, tanah
kelahiran yang tak henti menyalkan bara keindonesiaan dalam diri.
Tradisi
dan Sejarah Negeri Ginseng dalam “Meditasi Kimchi” oleh Tengsoe Tjahjono
Mengeja
Korea melalui puisi-puisi yang ditulis oleh penyair Tengsoe Tjahjono
mengahadirkan kesan berbeda dibandingkan mengenali Korea melalui berbagai tanda
yang melekat dalam buday K-Pop yang disebarkan melalui media massa ke berbagai
penjuru dunia. Kata-kata yang tertera dalam baris dan bait puisi dalam antologi
“Meditasi Kimchi” bukanlah sekumpulan tanda hura-hura sebagaimana tampilan,
gerak dan suara para artis K-Pop yang sedang menghibur para pemujanya. Antologi
tersebut jauh dari kesan merepresentasikan Korea dengan industri komersial
budayanya, namun menghipnotis dengan cara lain yaitu melalui refleksi
kontemplatif dan observasi puitik aku liris terhadap berbagai peristiwa dan
entitas tradisi khas serta narasi historis Korea yang dirasakan dan dilihatnya.
Sebagai seorang pendatang sekaligus penyair Indonesia yang bermukim di Seoul,
Tengsoe menyuntuki keunikan budaya Korea. Puisi-puisi Tengsoe tentang Korea
menghadirkan beberapa gambaran yang dominan tentang perjalanan, gugusan sejarah
Korea dan Indonesia. Para diaspora, pendatang, penggelana, dosen tamu,
mahasiswa, peneliti dan sastrawan lua rketika datang ke negri ginseng yang
bukan kampung halamnanya akan berada dalam posisi berjarak karena bagaimanapun
adalah outsider yang dalam kepalanya
dipenuhi keingintahuan dan pertanyaan. Dalam penggalan puisi ini Tangsoe
melukiskan jarak yangbegitu jauh di tempuh
Winter
sonata mengundangmu
Ketika
senja turun
Dan
dari negri yang jauh kamu tiba
Menyerahkan
pertanyaan
(tjahjono,2016;31)
Di Korea atau di negara
dimana orang-orang terbiasa berjalan kaki, jejak yang dilalui terasa berarti.
Untuk sampai ketempat tujuan. Kaki harus diayunkan dalam waktu yang tidak
sebentar. Tangsoe banyak melintasi jalan dan trotoar dengan berjalan kaki. Dalam
puisi berjudul “Cotage Garden” sepatu yang dikenakan aku liris, sang persona
yang melakukan perjalanan telah menorehkan jejak panjang sehingga sepatu
menjadi saksi yang seakan-akan mampu merekam apa yang dilalui. Dalam narasi
perjalanan dan perpindahan yang dilakukan pengelana, jejak yang dilalui selalu
meninggalkan kesan yang dipercakapkan.
Setiap bangsa selalu
diwarnai dengan momentum sejarah yang mempengaruhi perkembangan bangsa tersebut
di era sekarang. Sejarah sebagai gugusan peristiwa dan praktik yang
menghasilkan budaya dan identitas Korea terekam dalam antologi puisi “Meditasi
Kimchi”. Perjalanan aku liris dinegeri ginseng mewarnai eksplorasi terhadap
khazanah tardisional Korea yang eksotik, indah dan telah mengakar sejak
dulu.dalam penggalan puisi “Aku berdiri pada Masa Lalu, Chong Jee” hasil budaya
materiil berupa bangunan tua dan bersejarah mengantarkan aku liris kedalam
imaji masa lalu.
Aku
berdiri pada masa lalu, pada rumah beratap genting, lorong batu,
berpintu-pintu
jendela kayu. Kuamati puisi menjejaki lorong kata, mencari sudut kerucut, melihat
jarak dari ruang sesak, Larik dan bait menempel ditembok-tembok klasik,
meninggalkan
isyarat yang tak terbaca pesannya.
(Tjahjono, 2016: 60)
Dalam bait diatas
menggambarkan adanya relasi puisi dan budaya lampau. Puisi seperti sedang
mengobservasi lokasi. Namun relasi yang dibangun untuk menghubungkan berbagai
tanda masa lalu tidak sepenuhnya mengungkap rahasia yang terkandung didalamnya.
Memaknai sejarah memang membutuhkan pengetahuan dan piranti, apalagi untuk
menggali timbuhan hasil budaya klasik.
Antologi puisi dalam
“Meditasi Kimchi” memberikan kesan tentang adaptasi, eksplorasi dan berbagai
penafsiran, atas Korea dimata pendatang. Antologi ini sepertinya diinginkan
penyair bukan hanya sebagai kitab yang mengantarkan para pembacanya menyajikan
gambaran utuh identitasdan peta budaya Korea namun justru akan mengajarkan
kepada mereka tentang begitu banyak rahasia dan makna dari berbagai kode budaya
yang amsih perlu di eja karena dinamika dan keunikannya.
Negosiasi Identitas Pribumi dan
Belanda dalam
Sastra Poskolonial Indonesia
Kontemporer
Penjajahan di Indonesia
yang dilakukan Belanda tidak hanya berhubungan dengan eksploitasi sumber daya
manusia dan alam, namun juga konstruksi budaya dan identitas. Manusia Indonesia
oleh orang-orang Barat disebut sebagai pribumi (inlander) dengan segala citra inferioritasnya. Penciptaan
stereotip ini adalah bagin dari proses pengkategorisasian Sang Liyan (the other) yang dibineri oposisikan
dengan diri (the self) penjajah yang
berupaya membangun citra superior mereka. Perbedaan identitas tidak hanya
menyangkut warna kulit, namun juga budaya pembentuk identitas tersebut. Melalui
konstruksi identitas yang distorsif dan politis, penjajah berusaha mencapai
legitimasi untuk menguasai dan mendominasi koloni. Pada konteks ini,
sebagaimana yang dikatakan oleh Edward Said, relasi antara orang-orang timur (the orients) pribumi Indonesia dengan
orang-orang barat (the occidents)
Belanda adalah hubungan kekuasaan, dominasi dan kompleksitas hegemoni (2001 :5).
Oleh karena itu citra orang-orang timur yang direkonstruksi oleh barat
(penjajah) bukanlah citra yang sebenarnya namun lebih pada pencitraan penuh
distorsi dengan tujuan menguasai.
Di era penjajahan,
Belanda melakukan pemisahan akses pendidikan bagi orang-orang Belanda di
Indonesia, kaum bangsawan dan rakyat biasa. Hanya kaum bangsawan (elit pribumi)
yang memiliki kedekatan dengan Belanda yang diberi akses pendidikan. Generasi
Indonesia yang memiliki potensi intelektual dan kepemimpinan banyak yang
dikirim studi ke Belanda sebagai pusat kemajuan dengan tujuan menjadi agen
pemBelandaan Indonesia. Sebagai akibatnya proses pendidikan tersebut menjauhkan
orang-orang Indonesia dari akar budaya mereka sehingga mengalami ambiguitas dan
lebih cenderung mengagunggkan peradaban Eropa.
Belanda masih
memposisikan diri sebgai negara kuat yang merasa ‘bertanggung jawab’ untuk
membuat negara bekas jajahannya beradab melalui program pendidikan bagi
orang-orang dari bekas jajahannya. Terlepas dari itu, pembiayaan orang-orang
Indonesia untuk menimba ilmu di Belanda adalah strategi cerdas untuk tetap
menjalin hubungan dengan negara jajahan di era pasca penjajahan. Sesampai
disana, para mahasiswa Indonesia menegosiasikan identitas mereka dengan
orang-orang Belanda. Dalam proses adaptasi dan integrasi sejarah penjajahan
Belanda di Indonesia.turut mempengaruhi proses tersebut. Konstruksi identitas
keBelandaan dengan citra superiornya diharapkan mempengaruhi cara pandang para
mahasiswa Indonesia yang pulang membawa gelar akademik.
Kajian poskolonial
hingga kini terus menjadi perdebatan yang paling mendasar terkait kata
‘poskolonial’. Kata ini bermakna setelah penjajahan yang berarti berhubungan
dengan periode ketika penjajahan berakhir, dimana sebuah negara jajahan secara
formal memproklamasikan dan memperoleh kemerdekaan. Namun kajian poskolonial
tidak bisa dlepaskan dari era kolonial. Karya-karya sastra yang selama ini
dimasukkan dalam karya sastra poskolonial dan dianalisis dengan teori poskolonial
tidak hanya karya yang mengambil latar waktu dan peristiwa setelah penjajahan
berakhir secara formal ketika negara jajahan memproklamasikan kemerdekaan.
Berbagai fenomena kolonial dan pasca kolonial banyak termanifestasikan dalam
karya sastra yang ditulis oleh penjajah maupun orang-orang bekas jajahan.
Misalnya Multatuli yang menulis prosa ‘Saijdah dan Adinda” dan Maz Havelaar dan
Pramodya Anata Toer melukiskan hubungan penjajah dengan yang terjajah dalam
karyanya ‘Quartet Baru’. Novel-novel balai pustaka seperti Salah Asuhan, Siti
Nurbaya dan Azab dan Sengsara juga menggambarkan dialektika penjajah dan terjajah
di era ketika orang-orang Belanda tinggal dalam waktu yang lama di Indonesia.
Dalam karya sastra
berwarna poskolonial berbagai praktik kolonial, narasi-narasi perlawanan kaum
terjajah serta upaya hegemoni penjajah dalam mempertahankan superioritas mereka
bisa ditemukan. Pertemuan dua bangsa yang memiliki akar yang berbeda, antara
penjajah dan orang-orang yang terjajah dari bangsa timur memunculkan berbagai
fenomena poskolonial seperti hibriditas, negosiasi identitas, imigrasi, mimikri
kontestasi pusat (center) pinggiran (periphery) dan berbagai gejala lainnya.
Tony Day dan Keith Foulcher mengatakan bahwa kajian poskolonial dan kritik
sastra poskolonial secara khusus melihat cara bagaimana sastra menyajikan
berbagai isu identitas, menggambarkan pemikiran hibriditas sebagai konsekuensi
interaksi budaya berbeda yang melahirkan identitas baru (2002:8)
Contoh cerita pendek
berjudul “Bibir” (2009) karya Jamal T Suryanata dan “Kanal” (2009) karya Ratna
Indraswari Ibrahim menggambarkan negosiasi identitas Belanda dan Indonesia di
era pasca penjajahan. Tokoh Pranoto dalam Bibir ketika studi di Belanda
mengalami ambiguitas identitas karena hubungan dekatnya dengan gadis Belanda
bernama Jeanitt. Identitas Jawa khususnya dan Indonesia Pranoto berdialektika
dengan identitas Belanda yang dulu dicitrakan superior. Sementara tokoh Nunung
dalam Kanal menegosiasikan identitas Indonesianya dengan seorang Belanda
bernama Bryan. Aspek sejarah dimasukkan sebagai
peristiwa pendukung dalam cerpen Kanal dengan menggambarkan bahwa kakek
Bryan adalah mantan amteenar yang pernah
tinggal di Indonesia. Baik Ratna maupun Jamal tidak menarasikan upaya
resistensi yang dilakukan oleh Pranoto dan Nunung namun cenderung melegitimasi
konstruksi identitas inferior yang dilekatkan pada mereka. Hal ini mengindikasi
bahwa Belanda pada beberapa aspek tetap dianggap sebagai pusat dengan
superioritas sebagaimana dimiliki oleh negara-negara Eropa adidaya seperti
Inggris dan Prancis, negosiasi identitas belanda dan Indoensia dalam “bibir”
dan “Kanal” sangat dinamis dan menunjukan bahwa identitas di zaman yang secara
budaya hIbrid ini sebagai akibat dari kolonialisasi dan globalisasi adalah
identitas yang berubah-ubah (fluid)
dan ambivalen. Manusia Indonesia membutuhkan kepercayaan diri untuk melepaskan
diri dari konstruksi inferior agar mampu membangun negeri agar sejajar bahkan
lebih maju dari negar penjajahnya.
Kuasa Orientalis
Belanda atas Naskah-Naskah Kuno Indonesia
dalam Cerpen “Di
Jantung Batavia” oleh Indah Darmastuti
Pasca Indonesia
memproklamasikan kemerdekaannya dan memasuki dunia global, Indonesia tetap
menjadi objek penelitian bagi para orientalis Belanda yang ingin mengeksplorasi
budaya Indonesia. Menguasai pengetahuan dan kebudayaan tentang Indonesia adalah
pondasi bagi barat untuk mengenal, menakhlukan sekaligus menamankan pengaruh
hingga memiliki otoritas hingga memiliki otoritas atas dunia timur. Pengetahuan
bisa dipandang sebagai senjata untuk menguasai. Relasi orientalis dengan narasumber
penelitiannya dengan para pemangku kepentingan negara yang ditelitinya dengan
demikian senantiasa berada dalam kerangka dialektika kekuasaan. Siapa yang bisa
menguasai pengetahuan maka dia yang berpotensi memiliki pengaruh dan dominasi
Fenomena ini
menginspirasi para sastrawan salah satunya bernama Indah Darmastuti yang
menarasikan kisah orientalus Belanda dari Universitas Leiden yang memburu
naskah-naskah kuno Indonesia di era pasca kemerdekaan yang bertajuk “Di Jantung
Batavia” (dimuat dalm buku antologi cerpen Makan Malam Bersama Dewi Gandarin
Penerbit Buku Kata Januari 2016). Indah mengatakan bahwa ia bisa menuliskan
kisah-kisah peneliti tersebut karena sejak remaja membaca majalah intisari yang
banyak meuat kisah kehidupan peneliti.
Dalam cerpennya, Indah
menciptakan tokoh bernama Karel, orientalis asal universitas Leiden Belanda
ynag memburu dan mempelajari naskah-naskah kuno di Indonesia dengan menggunakan
berbagai strategi. Universitas Leiden selama ini dipandang sebagai institusi
pendidikan tinggi yang bernama karena banyak ahli Indonesia dan berbagai referensi
tentang Indonesia disana. Mengirimkan dan mendukung salah satu orientalisnya
untuk meneliti naskah kuno di Indonesia sebagai bagian dari upaya mengukuhkan
posisi Leiden untuk menjaga dan mempertahankan citra Belanda sebagai “Center of Southeast Asian Studies” (
Pusat kajian Asia Tenggara) .
Upara Karel untuk
mengkonstruksi posisi superiornya dan mengingatkan masa kejayaan Belanda di Indonesia,
ia menyebut Jakarta sebagai Batavia ketika bertemu Alung, seorang perempuan
Indonesia yang bekerja di Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta. Selain
itu Karel juga berupaya membangun relasi yang bisa membuatnya nyaman.
Kenyamanan ini selain dibangun dengan kedekatan pribadi juga secara simbolis
didukung dengan jejak kejayaan Belanda di masa lalu yang terepresentasikan
melalui gedung megah buatan Belanda yang dikunjungi Karel dan Alung. Karel
berusaha memperlakukan Alung dengan baik. Lebih jauh, karel juga bersifat ramah
kepada Alung. Hal ini tentu saja tak bisa terpisahkan dari kepentingan Karel
untuk mendapatkan bantuan dari Alung dalam misi penelitian naskah-naskah kuno.
Sebelum bekunjung ke Perpustakaan Nasional di Jakarta dan bertemu Alung, Karel
sebenarnya sudah pernah berkunjung ke Indonesia untuk tujuan mencari
naskah-naskah kuno di Indonesia.
Selain strategi
melakukan kajian secara filosofis terhadap naskah kuno di Museum Nasional
Indonesia, Karel juga melakukan studi lapangan ke situs sejarah yang berkaitan
dengan naskah kuno itu. Sebelum tiba di Jakarta, Karel berada di Trowulan,
Mojokerto. Sebagai orientalis, dengan demikian Karel juga memiliki agenda untuk
memburu berbagai naskah kuno di beberapa lokasi penting. Tindaakn itu berkaitan
dengan eksistensi kerajaan dimana dulu di situ pernah dikenal seorang empu
penulis manuskrip Negarakertagama. Hal ini menunjukkan totalitasnya untuk
menguasai pengetahuan naskah kuno itu secara komprehensif. Lebih jauh lagi
strategi Karel untuk mempelajari naskah-naskah kuno adalah dengan menguasai
bahasa Indonesia. Strategi dan penguasaan ini berjalan baik karena Alung sangat
kooperatif dalam membantu Karel .
Orientalis belanda
sangat memahami bahwa kunci untuk menguasai kekayaan budaya nusantara sangat ditentukan
oleh narasumber yang harus dieksplorasi pengetahuannya. Dengan menjalin
keakraban, orientalis Bealnda akan dengan leluasa menjalankan misi
penelitiannya. Posisi Karel sbg orientalis Belanda di mata Alung cenderung superior. Sebagai orang Indonesia, Alung
mengkonstruksi identitas Karel sebagai orang Belanda ynag memiliki banyak pengetahuan
tentang Indonesia. Dalam pandangan Alung, Karel adalah seorang nusantarais.
Julukan ini tentu menunjukkan bahwa orang Belanda bisa memiliki indentitas.
Ironis jika orang yang ahli dan menguasai naskah kuno Indonesia justru para
orientalis barat. Khazanah budaya nusantara, sebagai sumber identitas dan
peradaban Indonesia sudah seharusnya penguasaannya lebih dominan dilakukan oleh
para ahli budaya Indonesia sendiri daripada ahli dari bangsa asing. Cara
pandang inilah yang semakin menempatkan para orientalis Belanda makin superior
dan kuat dalam membangun kuasa.
Sastra(wan) dan
Representasi Masyarakat Multikultural
Masyarakat
multikultural dengan pluralitas identitas dan etnisitas yang dinamis banyak
direpresentasikan dalam karya sastra. Narasi ketegangan dan kedamaian
diartikulasikan oleh para sastrawan sebagai hasil dari pengamatan dan dinamika
manusia yang dipenuhi perpecahan disatu sisi dan kebersamaan serta kerukunan
disisi lain. Konflik berlatar-belakang perbedaan etnik, agama dan aliran
kepercayaan, stratifikasi sosial dan kepentingan ekonomi yang menginspirasi dan
menjadi pilihan tematik beebrapa sastrawan menunjukkan kritik para sastrawan
terhadap ketidakmampuan menerima perbedaan. Sementara kerukunan ditengah
perbedaan dikisahkan sastrawan untuk mempresentasikan harmoni senagai dampak
toleransi dan negosiasi antar budaya yang bisa dengan baik dilakukan. Karya
sastra menjadi medium menyuarakan dan mengingatkan kebhinekaan, menyemai arti
toleransi dan menjadi jembatan yang menghubungkan pemikiran serta sikap kitis
sastrawan dengan publik. Suara-suara para sastrawan yang menunjukkan
kegelisahan atas dinamika sosial budaya memberi kesan keterlibatan sastrawinya
bahwa sastra mengusung kepedulian sosial. Meskipun bukan sebagai aktivis sosial
atau politisi, sastrawan bisa bersuara dan melakukan kritik dengan cara dan
strategi tersendiri melalui karyanya. Berbagai alasan dalam mengankat landskap
kontestasi perbedaan dan relasi mutual antar individu dan kelompok masyarakat
dalam karya sastra bisa didorong berbagai alasan, seperti ketertarikan atas
peristiwa itu, upaya membangun kepedulian, motivasi memberikan pencerahan,
kepentingan dokumentasi tekstual, hingga dorongan mendiseminasikan situasi
sosio-kultural Indonesia ke pembaca lokal, nasional dan Internasional.
Dalam
antologi cerpen Anak-Anak Masa Lalu (2015) Dumhuri Muhammad menggambarkan
perbedaan cara pandang anggota masyarakat yang disatu pihak ingin mempertahankan
nilai-nilai tradisional sementara di pihak lain ada kelompok yang bersikeras
mendorong pembangunan bernilai modern yang berakar pada budaya industri yang
identik dengan komodifikasi dan komersialisasi serta logika. Serta budaya yang
dipicu oleh perbedaan pendapat antar anggota masyarakat yang teguh terkesan
kolot dengan tradisi mereka yang berpendidikan tinggi mencerminkan pergulatan
tradisi dan modernisasi. Perbedaan cara pandang dan kultural yang dalam cerpen
Dumhuri justru melibatkan tokoh-tokoh dari sesama suku seringkali melahirkan
konflik serius antar tokoh dalam cerita-ceritanya. Representasi kultural dalam
bangsa dalam etnik beragam yang memunculkan konflik sosial misalnya terlihat dalam novel karya Hamka
“Tenggelamnya Kapal van Der Wicjk” (Balai Pustaka, 2014). Kontestasi budaya
yang muncul karena perbedaan dua kelompok etnik yaitu Minagkabau dan Bugis
menyebabkan posisi sang tokoh utama yang hybrid memiliki dua identitas.
Ironisnya Zainuddin dianggap tidak secara utuh bisa menyandang identitas Minang
dan Bugis. Dia berada dalam ruang antara, ditengah masyarakat berlatar budaya
berbeda. Baik dumhuri maupun Buya Hamka, melalui karya mereka tengah mengkritik
primordialisme dan berberapa doktrin tradisional yang gagal mengakomodasikan
kesetaraan pluralitas dan cara pandang universal sehingga konflik dan proses
me-liyan-kan terjadi. Namun demikian keduanya, juga secara objektif tidak serta
merta mendukung masyarakat modern mengkonstruksi identitas mereka.
Tak
sedikit sastrawan yang juga menyandang identitas sebagai aktivis pergerakan,.
Penyair wiji Thukul melalui puisi-puisinya menyuarakan ketimpangan sosial.
Kritik atas jurang yang menggangga yang memisahkan kesejahteraan segelintir
orang dan mayoritas masyarakat di Indonesia akhir-akhir ini banyak disuarakan
dalam gerakan puisi menolak korupsi. Prosedur formal penangganan korupsi masih
dinilai belum maksimal. Selain itu peristiwa yang merepresentasikan masyarakat
multikultural adalah tentang kontestasi antar kelompk aliran dan etnik. Yang
coba disuarakan oleh Okky Mandasari dalam novelnya “Maryam” (2012). Okky
mengangkat fenomena konflik penganut Ahmadiyah dengan kelompok yang seringkali
menyebut diri mereka ahlushunnahwaljamaah. Okky menggambarkan tindakan
diskriminatif dan represif yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap
penganut Ahmadiyah di NTB. Secara implisit narasi besar yang dibangun dan
disuarakan dalam karya sastra ini adalah pentingnya toleransi yang menjunjung
tinggi keberagaman.
Representasi
berbagai peristiwa dalam masyarakat multikultural yang kadang menyedihkan dan
juga membahagiakan menunjukkan kepekaan dan kepedulian para sastrawan dalam
menyuarakan keberagaman. Sehingga menempatkan karya sastra tersebut berada di
tengah dinamika kultural yang terjadi, menjadi sumber bacaan dan inspirasi
terbentuknya masyarakat multikultural yang harmonis dan menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan.
Generasi Pesisir dalam Kumcer Mahwi
Air Tawar “Karapan Laut”
Narasi
budaya pesisir merupakan narasi besar Indonesia sebagai negara kepulauan yang
dikelilingi oleh lautan. Kehadiran karya sastra yang bertemakan pesisir menjadi
bahan bacaan dan kajian yang menawarkan sudut pandang berbeda dengan berbagai
karya ilmiah tentang dunia kelautan, perikanan dan geografi pesisir. Salah satu
sastrawan yang menulis tentang dunia kelautan adalah Mahwi Air Tawar. Dalam
buku kumcer “Karapan Laut” (PT Komando Books, 2014) Mahwi lahir dipesisir
Sumenep, Madura pada tanggal 28 oktober 1983. Meskipun dia sandangkan nama pena
air tawar dibelakang nama Mahwi dan melewati sebagaian masa hidupnya untuk
menimba ilmu dan berproses kreatif di luar Madura, ia tampaknya tetap berhasrat
melakukan dialektika ruang antar lingkungan pesisi, tempat ia dilahirkan dan
proses kreatif sastranya di daratan yang jauh dari pesisir kampong halamannya.
Melalui nama “Alir Tawar” ia tidak ingin stereotip generasi pesisir pulau garam
yang intim dengan tradisi asin air laut menjebaknya dalam primordialisme dan
karakteristik status serta tidak membuka ruang dialogis dengan tradisi daratan.
Ia percaya identitas budaya selalu menyimpan sisi lain yang berbeda dibalik
stereotip itu.
Dalam
cerpen Anak-Anak Laut Mahwi mengisahkan dua anak bernama Ramuk dan Matrasan
yang tengah bersitegang dan kemudian saling menantang untuk adu renang. Mereka
akan menaiki perahu ke laut kemudian adu cepat renang ke tepi pantai. Dalam
konteks ini laut menjadi entitas pembentuk jati diri generasi pesisir. Laut
menjadi wahana pengujian sekaligus pembuktian apakah mereka telah mampu
menakhlukannya. Mattasan dan Ramuk memiliki kemampuan yang berbeda dalam
beradaptasi dengan laut sebagai sumber penghidupan para nelayan di kampong
halaman mereka. Ramuk bisa berenang tetapi tidak benar-benaar tangkas seperti
Mattasan. Meskipun Ramuk lahir dan besar di sebuah kampong nelayan namun tak
sekalipun ia berenang jauh-jauh. Ayahnya, Durrakap selalu melarangnya
berlama-lama bermain dipantai. Sebaliknya sosok generasi pesisir belia namun
telah mewarisi tradisi melaut dengan keahlian handal tercermin dalam diri
Mattasa. Relasi Mattasan dengan laut begitu menyatu sehingga
membentukkarakternya sebagai generasi bahari. Mattasan secara fisik digambarkan
oleh Mahwi sebagai tokoh yang memiliki tubuh kekar, berotot dan gagah berani.
Sebuah karakter fisik yang dibutuhkan untuk menakhlukan ganasnya laut. Ia
memiliki kemampuan melaut layaknya nelayan-nelayan yang telah banyak memkan
asam garam dalam mengarungi samudera membentang demi menjala penghasilan.
Mahwi
memlaui cerpen-cerpen “Anak-Anak Laut” membangun citra generasi pesisir yaitu
generasi yang sudah seharusnya tak terasing dengan lingkungannya. Hanya dengan
relasi harmonis dengan laut dan kemampuan menakhlukannya, harapan untuk
bertahan hidup dan menggapai harapan yang dilakukan. Sosok generasi pesisir
yang lebih jauh digambarkan Mahwi dalam cerpen “Janji Laut” yang menghadirkan
tokoh anak bernama Julantip untuk menyelam dan kemudian menyembur kembali ke
permukaaan menunjukkan bahwa ia telah terlatih. Selain narasi generasi pesisir
yang akrab dengen mata pencaharian sumber daya laut, Mahwi juga menceritakan
bagaimana proses hubungan sosial anak-anak pesisir terbangun. Ia menggambarkan
bagaimana relasi anak-anak dipengaruhi oleh latar, tradisi dan sumber daya
pesisir.
Ihwal
menarik tentang generasi pesisir yang di narasikan Mahwi, terletak pada dua
sisi yang dikontestasikan. Di satu sisi adalah gambaran sosok generasi pesisir
yang direpresentasikan oleh tokoh Mattasan. Anak pesisir yang benar-benar mampu
bersahabat dengan laut, entitas di mana dia mengantungkan hidup. Namun di sisi
lain yang menjadi ironis dan menjadi bagian introspeksi diri dan kritik adalah
pendidikan formal yang tidak bisa dirasakan oleh Mattasan. Ia tidak bisa
sekolah lantaran harus menghidupi ibu dan adiknya lantaran ayahnya sudah
meninggal. Fenomena Ini bisa dimakani sebagai kritik pada pengambil kebijakan
yang terkesan tak memberikan perhatian kepada Mattasan dan keluarganya.
Sebenarnya Mattasan meskipun tetap bisa melaut ia masih memungkinkan untuk
sekolah dan mendapatkan ilmu pengetahuan jika ada bantuan bagi kehidupan keluarganya.
Generasi pesisir dalam cerpen Mahwi bisa dikatakan generasi yang memiliki
karakter berbeda satu sama lainnya. Ada yang memiliki jati diri yang
mencerminkan mental dan potensi sebagai pewaris aktif budaya pesisir. Ada juga
generasi yang masih terasing dengan kehidupan pesisir karena sebab yang beragam
seperti generasi tua yang tak memberikan edukasi, stereotip negatiF jika mereka
lebih banyak melaut daripada mengenyam pendididkan di sekolah dan tak ada tekat
yang kuat untuk menekuni pekerjaan malaut. Potret generasi pesisisr yang
disampaikan Mahwi dalam cerpen-cerpennya menjadi refleksi masyarakat pesisir
yang berhadapan dengn pertanyaan apakah ke depan mereka tetap melahirkan generasi
yang akan mampu melastarikan dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan pesisir.
Pengarang dan
Bayang-Bayang Kenangan dalam Kumcer “Reruntuhan Musim Dingin”
Karya Sungging
Raga dan “Tuhan tidak Makan Ikan” Karya Gunawan Tri Atmojo
Jika sebuah buku telah
sampai di tangan pembaca, dengan (si)apakah sesungguhnya pembaca berhadapan ?
Dengan karya yang telah pengarang ciptakan atau dengan pengarangnya ? Karya dan
pengarangnya seringkali tidak bisa dipisahkan. Sastrawan seringkali dengan
kesadarannya menarasikan bagian dari pengalaman, kenangan dan kecenderungan
pemikiran di dalam karyanya. Ia ingin mengabadikan tidak hanya apa yang dia
lihat dan di baca namun mungkin jalan hidup dan apa yang dilintasinya.
Sastrawan sadar akan jalan hidupnya dan berbagai lika-liku proses kreatifnya
dan disadari atau tidak turut mendorong pengungkapan dunia pengarang dalam
karangannya serta berbagai kenangan yang berhasil direkam dan diolahnya.
Seringkali sastrawan juga menciptakan kenangan cerita yang dituturkannya
sebagai bagian dari teknik untuk memasukkan tokoh-tokohnya kedalam masa lampau.
Kenangan dalam teknik penceritaan bisa digunakan sebagai pembentuk alur mundur.
Kenangan menjadi pintu untuk menguak tabir kompleksitas perjalanan hidup
tokoh-tokoh yang diciptakan di masa lalu sekaligus membangun kontestasi dan
relasi antara masa lalu dan masa depan. Penggarang seringkali menggerakkan
ceritanya dengan menciptakan tokoh yang sedang mengenang sesuatu.
Dalam kamus kepengarangan Sungging Raga,
penulis “Reruntuhan Musim Dingin” (Diva Press, Januari 2016) dan Gunawan Tri
Atmojo, penulis “Tuhan Tidak Makan Ikan” (Diva Press, Mei 2016) barangkali
termaktub kata-kata “jangan lupakan kenangan” sebagaimana para penggarang lain
seperti James Joyce, Virginia Woolf, Faulkner Rimbaud dan Paz yang seringkali
merepresentasikan kenangan atas objek dan peristiwa dalam karya mereka. Dalam
beberapa cerpen, Sungging raga dan Gunawan Tri Atmojo menggambarkan tokoh yang
sedang menggenang masa lalunya kemudian membawa kenangan itu sebagai bahan
menciptakan tikungan, perbandingan dengan masa kini dan ketegangan-ketegangan.
Ada hal yang menarik
dalam samudera cerita yang ditulis oleh Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmojo
yaitu kemunculan tokoh pengarang didalamnya. Tokoh pengarang dihadapkan dengan
proses mengenang masa lampau. Namun sebagaimana lazimnya proses mengenang
kehidupan dalam karya sastra yang tidak dapat disamakan dengan kehidupan nyata,
pembaca seharusnya tak sepenuhnya percaya bahwa narasi tokoh sastrawan dalam
karya sastra dan identitasnya adalah benar-benar sastrawan yang menulis karya
sastra tersebut. Bisa jadi bukan diri sastrawan pencipta itu sendiri namun
adalah sastrawan yang lain. Dalam “Reruntuhan Musim Dingin” karya Sungging raga
dan “Tuhan Tidak Makan Ikan” karya Gunawan Tri Atmojo penggarang digambarkan
sebagai sosok terpinggirkan yang tak menjanjikan bahkan terancam. Sungging Raga
dan Gunawan tri Atmojo seperti begitu memahami dan mengamini citra pengarang
yang selalu jauh dari kemewahan dan gemerlap kehidupan. Stereotip pengarang
yang dianggit Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmojo memberi kesan posisi sulit
seorang pengarang. Apakah representasi nasib pengarang ini berkorelasi dengan
jalan kepenggarangan Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmojo ? Apakah para pecinta
sastra yang mulai ingin menjalani hidupnya dengan menulis cerita akan
terpengaruh dengan kisah pengarang yang susah ? Bisa jadi mereka akan
tertantang dan membuktikan bahwa status penulis bisa meningkatkan derajatnya
dan justru terinspirasi dengan kehadiran penulis-penulis berhasil dan
karya-karyanya. Bisa jadi lain, generasi penulis kehilangan gairah untuk
menjadi penulis dan memilih pekerjaan lain.
Dalam pencitraan
penggarang yang termarjinalkan, Sungging Raga mengilustrasikan identitas sosial
penggarang yang dianggit oleh orang lain seperti dalam cerpennya “Reruntuhan
Musim Dingin”. “Tidak terbayang jika aku hidup bersama seorang penulis. Pasti
sangat menyusahkan. Menulis itu bukan pekerjaan, itu Cuma semacam penggisi
waktu luang” (Raga, 2016 : 70). Jalan hidup para penggarang dunia dan juga di
Indonesia jika ingin dikaitkan dengan narasi Sungging Raga ini memang beragam
dan penuh liku. Yang menarik dibalik narasi ini sesungguhnya terkait dengan
anggapan jamak dalam kesusastraan bahwa penggarang menggali inspirasi dari
berbagai dunia lain yang sering dipisahkan bahkan dioposisikan dengan dunia
sastra seperti politik, ekonomi dan agama. Jika kita merefleksikan proses
kreatif menulis cerita bisa juga berangkat dari proses kreatif kepenulisan dan
dinamika kehidupan penulis. Jika penulis berhenti menulis atau calon penulis
tidak jadi menulis karena takut dibunuh pasangannya karena karyanya tidak
dianggap berpengaruh dank arena menyusahkan ornag lain maka cerita penulis yang
menulis tentang seorang penulis dan kiprah penulisan hanya akan tinggal
kenangan.
Sungging Raga dan
Gunawan Tri Atmojo seperti tidak bisa melepaskan diri dari bayAng-bayang
kenangan. Mereka menggunakan kenangan-kenangan tidak hanya sebagai medium
menyusun struktur alur mundur namun lebih dari itu jusga sebagai unsur penting
untuk menciptakan pergulatan psikis tokoh, pemantik peristiwa tragis dan
lelucon-lelucon yang mempercandai penderitaan dan kegagalan. Nalbatian
mengatakan “Ingatan ketika diprovokasi, akan seperti obat yang membawa
seseorang ke sebuah perjalanan yang jauh dari masa kini menuju dunia khayal
(2013;44). Dalam beberapa cerpen Sungging Raga dan Gunawan Tri Atmojo,
tokoh-tokoh dilemparkan ke masa lalu yang penuh sembilu untuk dihadapkan pada
masa depan yang tak kalah pilu. Namun yang menarik dalam cerita-cerita Gunawan
Tri Atmojo kekecewaan, kegagaln dan penderitaan dihadirkan secara lucu. Cara
Gunawan Tri Atmojo mempercandai kesusahan dan kesedihan melalui cerita dan
nukilan-nukilan di atas mengingatkan kita pada gaya Aristophanes dan
Shakespeare, Backer dan beberapa penggarang lain yang menggunakan teknik ‘dark humor’. Adalah bentuk humor yang
menganggap penderitaan manusia sebagai sesuatu yang absurd daripada belas
kasihan atau menganggap eksistensi manusia sebagai sesuatu yang ironis dan tak
bermakna tetapi komikal. Dengan gambaran tokoh ‘Aku’ yang terpingkal-pingkal
melihat penderitaan tokoh lain dan menciptakan kejenakaan dalam narasi
penderitaan itu. Gunawan Tri Atmojo seakan mengajak pembaca untuk tidak
menganggap lanskap mirip secara tidak serius. Sebagai pengarang Gunawan Tri
Atmojo dan Sungging Raga telah mengahdirkan narasi penggarang dan berbagai kenangan
dengan pilihan dan tekniknya masing-masing. Relasi masa lampau dengan masa kini
di mana tokoh-tokoh ciptaan kedua penggarang ini beraktualisasi, menciptakan
identitas dan posisi yang dinamis serta memunculkan berbagai ketegangan dan
persoalan. Tampaknya penggarang dan kenangan telah bersekutu untuk membuat
pembaca terhanyut lalu memikirkan masa lalu yang menjadi bayang-bayang masa
depan tanpa ketidakpastian.
Well
reader, melalui rangkuman diatas kontributor gobook kali ini akan membawa
kalian untuk sedikit bermelankolis melalui sastra. Kebetulan mimin sendiri,
Deni Umi Rahmawati. Barangkali kalian mengenal sastra hanya sebatas puisi,
prosa, cerpen, novel dan lain sebagainya namun melalui buku ini karya sastra
tersebut dikemas dalam bentuk esai yang menarik untuk di selami. Beragam tema
coba di narasikan oleh penulis melalui diksi yang apik dan cenderung mudah
untuk dipahami. Istilah-istilah yang ada pun tidak terlalu sulit untuk di
terjemahkan sehingga tidak menganggu pembaca dalam menikmati setiap baris
alenianya.Akhir kata selamat berimaji dengan bahasa sastra yang penuh konotasi.

Komentar
Posting Komentar